Bagaimana “Forbidden City” dibangun?
06 July 2017 - 15:59, Jfk
0,00/5,00 dari 0

Selain dikenal dengan tembok besarnya, China juga memilki satu tempat wisata yang tidak kalah megahnya, yaitu Kota Terlarang atau “Forbidden City”, yang menempati area sekitar 72 hektar dan terletak di daerah kota kerajaan tua di Beijing. Posisinya berhadapan dengan lapangan Tienanmen dan Chang An Avenue. Dalam bahasa China kota ini disebut Zijin Cheng yang artinya Kota Terlarang Unggu. Disebut kota terlarang karena dulunya tertutup oleh masyarakat umum.

Sebelum menjadi museum dan tempat wisata, Kota Terlarang awalnya merupakan istana kerajaan bagi 24 kaisar dan keluarganya dari Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Kaisar terakhir yang tinggal di Kota Terlarang adalah Kaisar Pu Yi, ia diusir dari Kota terlarang pada tahun 1924 oleh Jenderal Feng Yuxiang.

Komplek Kota terlarang terdiri lebih dari 980 bangunan dan lebih dari 8000 ruangan, mulai dari Pintu Gerbang Harmoni, . Dibangun sekitar tahun 1406 oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming, kostruksi berjalan selama 15 tahun dan dikerjakan lebih dari 100.000 ahli dan jutaan pekerja. Melihat kemegahan Kota terlarang timbul pertanyaan, kira-kira untuk pembangunannya, bagaimana para pekerja bisa mengangkut batu-batu ukiran yang besarnya bisa mencapai 123 ton?

Berdasarkan naskah kuno yang diterjemahkan oleh Jiang Li (University of Science and technology Beijing) Para ahli sejarah mengungkapkan bahwa pembangunan ini mengandalkan jalan raya es sepanjang 70 km sebagai transportasi untuk mengangkut batu-batu dari tambang ke lokasi. Pada musim dingin, jalan setapak akan dilumasi dengan air agar dapat dilintasi oleh kereta luncur yang membawa batu-batu tersebut. Para pekerja membangun sumur-sumur air di sepanjang jalan, agar airnya bisa dihangatkan dan disiramkan ke lapisan es di jalan. Dengan cara seperti ini, menurut kalkulasi para ahli akan dibutuhkan 46 orang untuk menarik batu seberat 123 ton. Jika tidak memakai air hangat, akan dibutuhkan 338 orang untuk menarik beban yang sama (***).

Photo credit: Beijing via photopin (license)