Asal Usul Kaca
28 June 2017 - 10:39, TS
0,00/5,00 dari 0

Salah satu materi buatan yang tertua, yakni kaca, dibuat sekitar 5.000 tahun lalu. Kaca sebenarnya adalah pasir cair yang didinginkan. Seperti sirup, kaca adalah cairan yang tidak pernah tetap – selembar kaca yang sudah lama selalu sedikit lebih tebal pada bagian dasarnya daripada bagian atas. Kaca sangat berguna karena mudah dibentuk, anti karat, dan membentuk benda yang keras dan transparan yang tidak terpengaruh oleh bahan kimia. Biaya pembuatannya pun murah dan dapat didaur ulang terus-menerus. Kaca memiliki banyak kegunaan, dari menampung minuman hingga menolong kita untuk melihat. Sifatnya dapat diubah dengan menambahkan bahan kimia dan bahan lain seperti kawat, serta dengan mengendalikan cara pendinginannya.

Pasir biasanya meleleh pada temperature 1.700oC (3.090 oF). Tetapi jika dicampur dengan natrium karbonat (soda), titik lelehnya turun sehingga lebih hemat energi. Kalsium karbonat (batu kapur) ditambahkan untuk mencegah kaca larut dalam air. Juga ditambahkan limbah kaca dan dilelehkan agar dapat dipakai kembali.

Untuk membuat kaca tanpa mesin (kaca karya tangan), kaca cair dikumpulkan di ujung cekungan besi lalu ditiup. Kemudian kaca didinginkan dengan menggulungnya pada lempeng besi dan dibentuk dengan alat. Kaca dipanaskan kembali selama pembentukan, sehingga lebih mudah ditangani.

Sangat sulit membuat lembaran kaca untuk jendela. Salah satu metode adalah dengan meratakan kaca di antara roller, tetapi hasilnya tidak sempurna. Cara yang sangat cerdik untuk membuat kaca halus sempurna adalah metode kaca apung. Kaca cair diapungkan di atas “sungai” timah cair. Permukaan kaca menjadi sehalus permukaan logam cair. Roller membawa kaca untuk didinginkan dan dikeraskan.

Perlakuan terhadap kaca setelah keluar dari tungku mengubah sifatnya, membuatnya cocok untuk fungsi tertentu. Pendinginan cepat dengan semburan udara menghasilkan kaca yang kuat, cocok untuk mobil. Warna hijau dalam kaca mentah dapat dihilangkan dengan menambahkan kobalt dan selenium oksida. Tetapi bahan kimia tertentu menjadikan kaca berwarna-warni. Selenium sulfida memberi warna merah, termbaga oksida memberi warna biru, fosfat dan alumina memberi warna putih susu.

Untuk membuat bentuk tertentu dari kaca cair, digunakanlah cetakan. Botol, misalnya, dibuat dari bongkahan kaca cair yang disebut gob. Gob dimasukkan ke dalam cetakan dan ditekan ke dasar cetakan dengan udara bertekanan. Botol dibuat dengan meniupkan udara ke atas melalui gob itu. Kemudian gob dipindahkan ke cetakan kedua dan ditiup lagi untuk membuat bentuk akhir botol. Jika tidak menggunakan cetakan, kaca dapat dipotong menurut panjang yang diinginkan, dengan pemotong berujung berlian.